Ikatan Mahasiswa Pulp dan Kertas ITSB | IMPAS-ITSB | Integrity - Attitude - Ability

How is Paper Recycled?

1. Sorting
Successful recycling requires clean recovered paper, so you must keep your paper free from contaminants, such as food, plastic, metal, and other trash, which make paper difficult to recycle. Contaminated paper which cannot be recycled must be composted, burned for energy, or landfilled



2. Storage
Paper mill workers unload the recovered paper and put it into warehouses, where it is stored until needed. The various paper grades, such as newspapers and corrugated boxes, are kept separate, because the paper mill uses different grades of recovered paper to make different types of recycled paper products. When the paper mill is ready to use the paper, forklifts move the paper from the warehouse to large conveyors. 

3. Re-pulping and Screening
The paper moves by conveyor to a big vat called a pulper, which contains water and chemicals. The pulper chops the recovered paper into small pieces. Heating the mixture breaks the paper down more quickly into tiny strands of cellulose (organic plant material) called fibers. Eventually, the old paper turns into a mushy mixture called pulp. The pulp is forced through screens containing holes and slots of various shapes and sizes. The screens remove small contaminants such as bits of plastic and globs of glue. This process is called screening. 

4. Cleaning
Mills also clean pulp by spinning it around in large cone-shaped cylinders. Heavy contaminants like staples are thrown to the outside of the cone and fall through the bottom of the cylinder. Lighter contaminants collect in the center of the cone and are removed. This process is called cleaning. 


5. Deinking
Sometimes the pulp must undergo a "pulp laundering" operation called deinking (de-inking) to remove printing ink and "stickies" (sticky materials like glue residue and adhesives). Papermakers often use a combination of two deinking processes. Small particles of ink are rinsed from the pulp with water in a process called washing. Larger particles and stickies are removed with air bubbles in another process called flotation. During flotation deinking, pulp is fed into a large vat called a flotation cell, where air and soap-like chemicals call surfactants are injected into the pulp. The surfactants cause ink and stickies to loosen from the pulp and stick to the air bubbles as they float to the top of the mixture. The inky air bubbles create foam or froth which is removed from the top, leaving the clean pulp behind. 

6. Refining, Bleaching, and Color Stripping
During refining, the pulp is beaten to make the recycled fibers swell, making them ideal for papermaking. If the pulp contains any large bundles of fibers, refining separates them into individual fibers. If the recovered paper is colored, color stripping chemicals remove the dyes from the paper. Then, if white recycled paper is being made, the pulp may need to be bleached with hydrogen peroxide, chlorine dioxide, or oxygen to make it whiter and brighter. If brown recycled paper is being made, such as that used for industrial paper towels, the pulp does not need to be bleached. 

7. Papermaking
Now the clean pulp is ready to be made into paper. The recycled fiber can be used alone, or blended with new wood fiber (called virgin fiber) to give it extra strength or smoothness. The pulp is mixed with water and chemicals to make it 99.5% water. This watery pulp mixture enters the headbox, a giant metal box at the beginning of the paper machine, and then is sprayed in a continuous wide jet onto a huge flat wire screen which is moving very quickly through the paper machine.

On the screen, water starts to drain from the pulp, and the recycled fibers quickly begin to bond together to form a watery sheet. The sheet moves rapidly through a series of felt-covered press rollers which squeeze out more water.  

The sheet, which now resembles paper, passes through a series of heated metal rollers which dry the paper. If coated paper is being made, a coating mixture can be applied near the end of the process, or in a separate process after the papermaking is completed. coating gives paper a smooth, glossy surface for printing.

Finally, the finished paper is wound into a giant roll and removed from the paper machine. One roll can be as wide as 30 feet and weigh as much as 20 tons! The roll of paper is cut into smaller rolls, or sometimes into sheets, before being shipped to a converting plant where it will be printed or made into products such as envelopes, paper bags, or boxes. 


sumber: 
 http://www.tappi.org/paperu/all_about_paper/earth_answers/earthAnswers.htm

Physical and Optical Properties of Paper

Physical Properties
  1. Basis weight/gramature, yaitu perbandingan berat suatu lembaran kertas per satuan luas, dengan satuan g/m2.
  2. Thickness, yaitu ketebalan lembaran kertas, dengan satuan mm.
  3. Bulk density, yaitu perbandingan gramature kertas terhadap ketebalannya, dengan satuan g/cm3.
  4. Roughness (kekasaran permukaan kertas), yaitu volume udara yang mengalir keluar per satuan waktu pada tekanan tertentu diantara permukaan kertas, dengan satuan ml/min.
  5. Smoothness, yaitu kehalusan permukaan kertas yang dihitung secara tidak langsung berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan 10 ml udara pada permukaan kertas berbentuk lingkaran seluas 10 ± 0,05 cm2 pada kondisi standar, dalam satuan sec/10 ml.
  6. Bursting strength (kekuatan jebol kertas), yaitu besarnya tekanan hidrostatik yang dapat menjebol kertas melalui diaphragma karet pada daerah lingkaran berdiameter 30,5 mm, dalam satuan kPa.
  7. Tensile strength, yaitu daya tahan maksimum dari lembaran kertas terhadap gaya tarik yang bekerja pada kedua ujung lembaran kertas tersebut, dalam satuan kN/m.
  8. Tearing strength (ketahanan sobek), yaitu gaya yang diperlukan untuk menyobek selembar kertas yang dinyatakan dalam gram gaya (gf) atau mili Newton (mN).
  9. Surface strength (kekuatan permukaan kertas), yaitu daya tahan permukaan kertas terhadap kekuatan cabut (picking) dari wax.
  10. Cobb value (daya serap air), yaitu jumlah air yang diserap oleh lembaran kertas pada kondisi tertentu dalam kondisi standar, dengan satuan g/m2/min.
  11. Moisture content (kadar air), yaitu kandugan air dalam kertas yang merupakan perbandingan antara berat air dalam kertas dengan berat kertas tersebut, dinyatakan dalam satuan persen (%).
  12. Ash content (kadar abu), yaitu perbandingan antara berat abu hasil pembakaran dengan berat kering semula, dinyatakan dalam satuan persen (%).
  13. Porosity (daya tembus udara), yaitu waktu yang diperlukan oleh 100 ml udara untuk menembus selembar kertas berbentuk lingkaran seluas 645 mm2, dinyatakan dalam satuan sec/100 ml.
  14. Internal bounding, yaitu kekuatan antar serat dalam selembar kertas, dinyatakan dalam satuan J/m2.
  15. Dirt count (noda kertas), yaitu benda asing (kotoran) pada lembaran kertas yang mempunyai warna kontras dan mempunyai luas tertentu yang diukur dengan dirt estimation chart, dinyatakan dalam satuan mm2/m2.
  16. Stiffness, yaitu kelenturan (momen lentur) kertas terhadap getaran pada frekuensi konstan yang dinyatakan dalam mNm.
  17. Water resistance, yaitu ketahanan kerats terhadap penetrasi cairan yang diukur berdasarkan waktu yang dibutuhkan cairan untuk menembus lembaran kertas, dinyatakan dalam satuan second.
  18. Paper formation, yaitu derajat keseragaman penyebaran serat-serat dalam lembaran kertas.
  19. Defect, yaitu cacat yang terdapat pada lembaran kertas dengan pemeriksaaan secara visual.

Optical Properties 
  1. Brightness, perbandingan antara intensitas cahaya biru dengan panjang gelombang 457 nm yang dipantulkan oleh permukaan kertas terhadap cahaya sejenis yang dipantulkan permukaan lapisan Magnesium Dioksida. 
  2. Opacity, perbandingan antara faktor pantul pencahayaan (Ro) dengan faktor pencahayaan intrinsic (R2) yang dinyatakan dalam persen (%). 
  3. Whiteness, angka ang menunjukkan derajat putih kertas. 
  4. Yellowness, angka yang menunjukkan derajat kuning kertas. 
  5. L*, parameter yang menunjukkan peningkatan lightness (terang/gelap). 
  6. a*, parametar yang menunjukkan tingkat merah/hijau. 
  7. b*, parametar yang menunjukkan tingkat kuning/biru

Asia Pulp and Paper Raih Peringkat di Jenewa

Asia Pulp and Paper (APP), sebuah merek induk untuk produk kertas yang diproduksi oleh sejumlah pabrik di Indonesia, mendapatkan peringkat A+ global Reporting Initiative (GRI) untuk laporan keberlanjutan mereka.

Menurut Managing Direktur Sustainibility dan Stakeholder Engagement APP Aida Greenbury menyatakan bahwa kesuksesan laporan ini diperoleh melalui audit yang komprehensif dari SGS (societe generale de Surveillance) GRI yang berbasis di Jenewe, Swiss.

"Seperti yang telah kami nyatakan di dalam laporan tersebut, visi kami adalah untuk menjadi penyedia pulp dan kertas yang terkemuka di nuklir," ungkap Aida dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (18/11/2011).

Laporan keberlanjutan APP ini, menurut Aida, adalah edisi ketiga yang dipublikasikan oleh perusahaan sebagai lanjutan dari versi sebelumnya yang diterbitkan pada 2007 dan 2008.

"Dokumen tersebut merangkum seluruh kegiatan APP di berbagai area di Indonesia, termasuk di dalamnya kegiatan yang berhubungan dengan praktek hak asasi manusia dan perburuhan, perkembangan ekonomi, pengelolaan rantai pasokan, kinerja lingkungan dan inisiatig keberlanjutan, dan lainnya," tukasnya.


Sumber:
http://economy.okezone.com/read/2011/11/18/278/531191/asia-pulp-and-paper-raih-peringkat-di-jenewa

Menjadi Industri Pulp dan Kertas Global

Tanaman accra (sejenis akasia) tumbuh subur di daerah Kalimantan Barat, sekitar sejam perjalanan dari Pontianak.

Lantaran tumbuh baik, dalam lima tahun saja tanaman itu sudah bisa mulai dipanen untuk menjadi bahan baku industri bubur kertas (pulp). Di Kalimantan Barat, tanaman yang dibudidayakan dalam Hutan Tanaman Industri (HTI) tersebut pada akhirnya menjadi industri yang berkembang untuk menopang kebutuhan pabrik bubur kertas yang saat ini terkonsentrasi di Pulau Sumatera.

Perusahaan HTI lain yang berkembang di Kabupaten Sanggau dan Sintang, Kalimantan Barat adalah Finantara yang semula merupakan lahan pengembangan perusahaan patungan dari Finlandia. Tanaman dari Finantara tersebut, yang umumnya berupa eucalyptus, kemudian juga menjadi sumber yang penting bagi pengembangan industri bubur kertas tersebut. Berbagai tanaman dari HTI tersebut, baik dari Sumatera, Kalimantan, maupun pulau-pulau lain, pada akhirnya menjadi bagian dari urat nadi industri bubur kertas di Tanah Air.

Dengan umur panen yang pendek (dibandingkan dengan daerah Skandinavia yang memerlukan waktu untuk panen sampai 40 tahun), HTI tersebut mampu menyediakan bahan baku industri secara berkelanjutan. Industri bubur kertas, yang merupakan industri sangat padat modal, berkembang di beberapa tempat di Indonesia. Basis utama yang sangat kuat yakni di Provinsi Riau. Di sana terdapat pabrik bubur kertas Indah Kiat yang merupakan bagian dari grup besar Sinar Mas serta Riau Andalan yang menjadi bagian dari grup Raja Garuda Mas.

Sementara itu, Tanjung Enim Lestari merupakan pabrik bubur kertas yang dewasa ini dimiliki oleh Marubeni yang beroperasi di Sumatera Selatan. Daerah lain yang memiliki pabrik bubur kertas adalah Kalimantan Timur. Indah Kiat yang tergabung dalam Asia Pulp and Paper merupakan industri pulp dan kertas yang terbesar di Indonesia. Dari pabrik di Perawangan Riau tersebut, bubur kertas kemudian dijadikan kertas melalui berbagai pabrik, baik di Riau maupun pabrik Indah Kiat, Tjiwi Kimia, Pindo Deli, dan Lontar Papyrus yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia.

Sebagian besar bubur kertas tersebut juga diekspor ke berbagai negara, terutama ke China, di mana perusahaan tersebut juga pemain yang sangat besar di negara tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada Riau Andalan yang merupakan bagian dari APRIL (Asia Pacific Resources International Limited). Pabrik pulpnya yang berkapasitas dua juta ton dan pabrik kertasnya yang berkapasitas 800 ribu ton merupakan pemain yang sangat penting di Indonesia maupun pasar global.

Dengan permintaan pulp yang tinggi di pasar global, terutama untuk kebutuhan industri kertas tulis, kertas tisu, kertas karton untuk kemasan, dan sebagainya, salah satu raksasa dari industri pulp Indonesia akan menambah pabrik baru di daerah Sumatera Selatan. Pabrik tersebut akan menggunakan kapasitas dua juta ton sehingga kapasitas industri pulp di Indonesia akan meningkat sangat besar. Perkembangan HTI di berbagai tempat tampaknya seiring dengan peningkatan kapasitas industri bubur kertas.

Di Indonesia masih banyak lagi industri kertas yang terus berkembang sejalan dengan permintaan yang sangat besar dari industri makanan-minuman, tekstil, elektronika, maupun industri farmasi. Berbagai industri tersebut sangat membutuhkan kertas karton untuk kemasan produk mereka yang dihasilkan oleh industri Corrugated Box. Dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan, industri ini berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan berbagai industri penggunanya tadi.

Selain dihasilkan para raksasa tersebut, beberapa industri kertas karton di Indonesia juga beroperasi menggunakan kertas dan karton bekas yang dikumpulkan dari Indonesia maupun diimpor dari negara lain. Ini berarti bisnis recycling kertas tersebut berkembang secara luar biasa di Indonesia. Dari salah satu pabrik yang saya kunjungi di daerah Cengkareng, perusahaan tersebut memanfaatkan limbah karton bekas pakai yang memenuhi halaman pabrik.

Karton bekas itu kemudian diolah menjadi bubur kembali. Dalam proses tersebut tentu ditambahkan bahan-bahan lain misalnya bahan kertas dengan serat panjang sehingga kertas karton yang dihasilkan dari kertas bekas tersebut tetap akan memiliki kualitas tinggi. Kebetulan pabrik tersebut memiliki unit yang menghasilkan kertas Kraft dan ada juga yang menghasilkan kertas Duplex. Gulungan kertas karton yang dihasilkan perusahaan tersebut sebagian digunakan sendiri untuk menghasilkan kotak-kotak kemasan karton yang dewasa ini permintaannya sangat tinggi.

Sebagian besar lainnya juga dipakai untuk memasok pabrik-pabrik karton kemasan yang banyak beroperasi di sekitar Kota Jakarta maupun daerah lainnya. Jika kita melihat pertumbuhan industri elektronika sebesar lebih dari 20 persen, industri produk konsumer seperti Unilever, Indofood, dan Wings juga tumbuh tinggi, serta-merta permintaan kemasan karton bagi produk mereka juga meningkat tinggi. Ini mengakibatkan berbagai perusahaan corrugated box tersebut harus memperluas usahanya secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan melihat gambaran semacam itu, merupakan suatu hal yang aneh bahwa industri kertas, pulp, dan barang cetakan di Indonesia dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan pada 2012 maupun pada kuartal I-2013. Beberapa raksasa kertas tersebut masih terus berekspansi, termasuk rencana penambahan pabrik pulp baru, karena melihat kebutuhan kertas dan pulp global yang terus meningkat. Demikian juga dengan berbagai perusahaan kertas lebih kecil yang banyak beroperasi di Jawa dengan memanfaatkan limbah kertas yang ada juga berekspansi terus-menerus.

Dalam suatu gathering dengan beberapa pabrik karton kemasan saat Hari Raya Imlek yang lalu, saya mencoba menegaskan sekali lagi kepada mereka mengenai perkembangan industri tersebut. Secara serempak mereka mengatakan pertumbuhan mereka sangat tinggi karena permintaan yang terus mengalir bagi produk mereka. Rasanya Kementerian Perindustrian dan BPS perlu meninjau kembali keseluruhan industri untuk memberikan gambaran yang lebih riil apa yang saat ini terjadi.

Saya meyakini, industri bubur kertas dan industri kertas di Indonesia dewasa bukan hanya kuat di pasar domestik, melainkan juga sudah menjadi industri yang sangat disegani di pasar global. Salah satu pemainnya bahkan sudah menjadi pemain utama dalam industri kertas global tersebut.


Sumber:
http://economy.okezone.com/read/2013/05/28/279/813679/menjadi-industri-pulp-dan-kertas-global