Blue Angel Wing Heart Ikatan Mahasiswa Pulp dan Kertas ITSB

Ikatan Mahasiswa Pulp dan Kertas

Intstitut Teknologi dan Sains Bandung

SOFTSKILL 2020

Bertema "Be Ready to Overcome Industry 4.0 in The Middle of Pandemic"

KULIAH TAMU 2020

Bertema "Steam and Condensate system pada dryer" and "Overview SPE pada Paper Making";

IMPAS TIME 2019

Kegiatan IMPAS TIME bersama seluruh Angkatan

Rapat besar

Rapat perdana IMPAS di kepengurusan 2019/2020

Tim ITSB MENGAJAR Batch 5

SDN BOJONGMANGU 02, Kec. Cikarang Pusat, Kab. Bekasi

aac

Ikatan Mahasiswa Pulp dan Kertas ITSB | IMPAS-ITSB | Integrity - Attitude - Ability

Proses pemutihan pulp (Bleaching)

 

Proses pemutihan pulp (Bleaching)

Proses pemutihan merupakan proses penghilangan suatu zat yang menimbulkan warna pada suatu bahan seperti pada tekstil, pulp, dan bahan lainnya. Proses pemutihan pada pulp adalah perlakuan secara kimia terhadap serat-serat untuk meningkatkan sifat optik terutama derajat putih. Derajat putih adalah reflektivitas contoh pulp dibandingkan dengan reflektivitas permukaan standar dengan menggunakan sinar biru pada panjang gelombang 457 nm. Parameter bahan baku yang paling utama dihilangkan pada pemutihan pulp kimia adalah lignin yang masih tersisa setelah proses pemasakan.

Ada dua proses yang terjadi ketika kita melakukan proses pemutihan pulp, proses tersebut adalah:

a.    Lignin removal ( delignifikasi / True bleaching )

Proses pemutihan penghilangan lignin adalah proses yang digunakan untuk  pemutihan pulp kimia yaitu debgan perlakuan secara kimia terhadap pulp untuk melarutkan zat — zat penyebab warna ( gugus chromophor ) sehingga dapat meningkatkan sifat optik terutama derajat putihnya.

b.    Lignin decolorization ( brightening )

Pada proses ini gugus chromophor diubah strukturnya sehingga dapat memantulkan sinar putih yang lebih banyak tetapi molekul lignin tidak dihilangkan. Pemutihan jenis ini digunakan pada pulp kimia untuk meningkatkan derajat putih dengan tidak mengurangi rendemen.

Secara prinsip, selulosa murni sebenarnya berwarna putih, tetapi pulp menjadi         

berwarna karena mengandung zat-zat lain seperti senyawa lignin dan zat warna organik lainnya. Pada dasarnya pemutihan merupakan proses perlakuan bahan kimia (oksidasi dan alkali) terhadap serat selulosa untuk menaikkan derajat putih pulp, yaitu melarutkan senyawa-senyawa berwarna yang dapat hilang pada pencucian. Oksidan (chlor, oksigen, hipoklorit, khlordioksida, dan hydrogen peroxide) dipakai untuk mendegradasi dan menghilangkan warna lignin secara hidrolisa dan melarutkannya.

Cara yang cocok untuk pemutihan pulp sulfat  yaitu  dengan cara penghilangan  lignin. Sifat sisa lignin yang terdapat dalam pulp sulfat sulit untuk dihilangkan. Oleh karena itu proses pemutihan biasanya dilakukan dalam tahap pemutihan pulp secara konvensional yang biasanya menggunakan senyawa chlor dan turunannya.

Proses pemutihan terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

1.    Konvensional

Merupakan proses pemutihan yang masih dilakukan dengan menggunakan senyawa chlor (Cl2) karena sifatnya yang sangat efektif menyerang dan menghilangkan lignin serta harganya yang lebih murah. Penggunaan chlor ini akan mengarah kepada terbentuknya senyawa organik terchforasi dalam air limbah buangan. Karena berpengaruh buruk terhadap lingkungan maka penggunaan proses pemutihan non ECF (Elemental Chlorin Free) yang menggunakan chlor secara drastis sudah mulai ditinggalkan   Kelebihan dari penggunaan chlor sebagai bahan kimia pemutih ialah karena chlor memiliki sifat yang sangat efektif dalam melarutkan dan menghilangkan unsur- unsur lignin yang terkandung didalam pulp. Akan tetapi, dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh tersebut karena reaksi chlor pada proses pemutihan akan membentuk senyawa-senyawa organik terchlorasi pada air limbah yang dihasilkan.

2.    Elemental chlorine free (ECF)

Proses ECF merupakan proses pemutihan pulp yang tidak menggunakan senyawa chlor murni sebagai bahan kimia pemutihnya, akan tetapi menggunakan ClO2. Proses pemutihan ini sangat baik digunakan, karena prosesnya yang ramah lingkungan yaitu dapat meminimalkan kandungan dioksin dan furan.

Keuntungan menggunakan teknologi ECF (Elemental chlorine Free)

dibandingkan dengan konvensional:

a)    Senyawa terchlorasi dan dioksin lebih rendah.

b)    Adsorbable Organyc Halyde (AOX) Kandungan halida organik yang terserap l ebih rendah pada pulp putih dan air limbah yang dihasilkan.

c)    Tidak ada perubahan toksitas dalam effiuent.

d)    Tidak ada perubahan derajat putih (brightness) pulp tetapi kekuatan lebih tinggi. Sedangkan kelemahan atau kekurangan dari teknologi ini ialah masih adanya dampak lingkungan yang masih dapat ditimbulkan pada air limbah yang dihasilkan meskipun lebih kecil jika dibandingkan dengan proses konvensional, selain itu harga bahan kimia khlordioksida relatif lebih mahal dibandingkan dengan chlorin murni pada proses konvensional.

 

3. Totally Chlorine free (TCP)

TCF merupakan tahapan proses pemutihan yang sama sekali tidak menggunakan senyawa-senyawa chlor baik chlor murni maupun khlordioksida.Sebagai contoh proses pemutihan pulp dengan metoda TCF yaitu OZEP, OZEEZ. Pada tahapan tersebut digunakan ozon (03) sebagai pengganti dari penggunaan senyawa-senyawa khlor sebagai bahan kimia pemutih yang dalam ha1 ini dilambangkan dengan symbol Z. Penggunaan teknologi TCF, yaitu substitusi senyawa chlor dengan hydrogen peroksida dan ozon memberikan beberapa keuntungan:

a)    Citra sebagai industri yang ramah lingkungan.

b)    Masyarakat atau lingkungan tidak terancam bahaya pencemaran organoc/i/or.

c)    Penghematan dalam menggunakan air.

d)    Menghindari kemugkinan kena denda akibat pencemaran.

e)    Menghemat energi (10 sampai 15 % bila menggunakan oksigen).

Sedangkan kelemahan atau kekurangan dari teknologi ini ialah karena dibutuhkan lokasi atau plant tersendiri untuk menyediakan bahan kimia pemutih tersebut, oleh karena itu akan diperlukan investasi yang sangat besar.

Bahan kimia pemutih

Tahap O (Oksigen Delignifikasi)

Tahap ini disebut juga tahap prebleaching karena umumnya dilakukan sebelum tahapan-tahapan pemutihan (bleaching) yang sebenarnya (true bleaching). Pada tahap ini digunakan oksigen dalam larutan alkali untuk meningkatkan daya oksidasi oksigen terhadap lignin. Oksigen merupakan bahan kimia pemutihan (bleaching) yang paling murah tetapi juga yang paling tidak selektif terhadap lignin. Oksigen pada dasarnya bersifat kurang reaktif namun dalam larutan tertentu seperti NaOH akan bersifat sangat reaktif dan dalam proses pemutihan dapat mendegradasi lignin 30 sampai 50% dari total lignin yang masih terkandung dalam pulp coklat. Namun dalam tahap ini diusahakan tidak boleh lebih dari 50% lignin yang terbuang karena daya oksidasi yang terlalu kuat akan mengakibatkan banyaknya karbohidrat yang ikut terdegradasi.

Tahap C

Biasanya chlorin digunakan pada tahap pertama pemutihan (bleaching), pulp direaksikan dengan elemental chlorin (C12) baik yang berupa gas atau larutan, pada pH 0,5 sampai 1,5.

Tahap E

Tahap E yaitu tahap ekstraksi komponen-komponen lignin yang terdegradasi, dilakukan setelah tahap pertama pemutihan (bleaching), bahan kimia yangdigunakan berupa larutan NaOH. Gugus alkali menggantikan Chlor yang membuat lignin terlarut.

Tahap H

Pemutihan (bleaching) tahap H menggunakan bahan kimia berupa larutan hipokhlorit, umumnya dalam bentuk NaOCl. Hipokhlorit lebih selektif disbanding Cl2 tetapi masih kurang dibanding ClO2.

Tahap D

Tahap ini menggunakan Khlordioksida (C1O2), merupakan bahan kimia yang cukup mahal tetapi sangat selektif terhadap lignin, sangat berguna untuk pemutihan (bleaching) pada tahap akhir pada saat konsentrasi lignin sangat rendah. C1O2 bereaksi dalam dua tahap, tahap pertama pembentukan C1O2 kemudian bereaksi menjadi Cl dalam kondisi asam.

Tahap P

Tahap ini menggunakan hydrogen peroxide (HzO2), walaupun tidak umum digunakan untuk pemutihan pulp kimia tetapi saat ini digunakan untuk pemutihan bebas chlorin. Umumnya digunakan untuk tahap akhir daritahapan pemutihan.

 Tahap CD

Disebut juga tahap Dc, merupakan modifikasi tahap C, digunakan campuran Chlorin dan khlordioksida. ClO2 digunakan untuk mencegah  chlorasi berlebih dan mengurangi jumlah bahan organik terkhlorisasi dalam air  buangan.

 

Sumber:Laporan Kerja Praktek Rizki Adi Saputra 2017

DEINKING

 

DEINKING

Proses deinking pada umumnya adalah proses penghilangan tinta dan bahan bukan serat dari kertas bekas. Efektifitas proses deinking tergantung dari bahan baku kertas bekas, jenis kontaminan terutama tinta, tahapan proses yang dilakukan, dan jenis peralatan yang digunakan. Tahapan proses deinking konvensional umumnya meliputi tahap penguraian, pembersihan dan penyaringan, penghilangan tinta, serta tahap pencucian dan pengentalan (Jenni R.dkk, 2017). Proses deinking konvensional menggunakan sejumlah besar bahan kimia yang mengakibatkan tingginya biaya pengolahan air limbah untuk dapat memenuhi peraturan lingkungan.

Proses deinking menurut Emerson (2004) terdiri dari beberapa tahapan antara lain:

1.      Repulping

Pada tahap ini kertas bekas dilakukan proses penghancuran atau penguraian agar menjadi buburan pulp. Repulping merupakan tahap pertama dalam pembuatan pulp dari kertas bekas biasanya nilai konsistensi yang rendah diatur 4% - 6% dan konsistensi tinggi 12% - 15%, sehingga diperlukan beberapa tahan proses selanjutnya. Jenis alat yang digunakan pada tahap awal ini yaitu berupa drum pulper dengan ukuran besar dan memiliki reject point untuk membuat kotoran-kotoran yang tidak boleh lolos ke tahap berikutnya. Jumlah dari energi mekanik yang besar dihasilkan oleh pulper tentu sangat penting untuk menentukan nilai buburan serat dan nilai tinta yang terdispersi.

2.      Screening

Pada proses screening memiliki peranan dalam pengolahan serat agar tidak tercampurnya pulp dengan kotoran. Fungsi dari screening adalah untuk memisahkan dan menyaring kotoran berupa partikel-partikel berdasarkan ukurannya. Bahan pengotor yang terdapat pada kertas bekas secara umum yaitu; benang, plastik, kayu, dan lainnya. Penyaring kotoran terdapat dua jenis tipe yaitu berupa slot dan holes. Selain itu, terdapat pressure screen system yang merupakan proses sirkulasi didalam screening tersebut seperti reject screen, open gravity screen, dan closed gravity screen.

3.      Cleaning

Pada proses cleaning memiliki fungsi yaitu untuk memisahkan bahan pengotor serat berdasarkan berat jenis. Cleaning dilakukan dengan proses secara centrifugal yaitu pemisahan berdasarkan perbedaan specific gravity. Pada alat cleaner terdapat cone cleaner yang digunakan untuk membuang pengotor berukuran kecil, berat, padat seperti shives, pasir karat, serpihan metal, dan lainnya. Konsistensi yang digunakan pada cleaner untuk mengolah buburan kertas bekas terbagi menjadi 3 bagian yaitu high consistency 2% - 5%, medium consistency 2%, dan low consistency 0,5% - 1,5%.

 

 

 

 

4.      Flotation

Pada proses flotation (flotasi) ini merupakan penghilangan tinta terhadap serat dilakukan dengan cara memisahkannya memakai bahan kimia. Menurut (Jonson, 1992) mekanisme flotasi merupakan peristiwa tabrakan antar partikel udara dan penghilangan busa gelembung udara yang berlapis tinta, agar tinta dapat dengan mudah dibuang, partikel-partikel tinta harus kontak dengan bahan kolektor dan selanjutnya kontak dengan gelembung udara, sehingga terjadi penggumpalan tinta. Penggumpalan tinta ini selanjutnya membentuk partikel yang lebih besar sehingga tinta mudah menempel pada gelembung udara yang naik kepermukaan suspensi. Ukuran dan jumlah udara akan menentukan efisiensi proses flotasi karena gelembung-gelembung udara bergerak untuk mengangkat partikelpartikel tinta dan bahan pengisi ke permukaan suspensi. Ukuran dan jumlah gelembung udara dipengaruhi oleh kuantitas udara yang dimasukan kedalam sistem. Terlalu banyak udara yang dimasukkan kedalam sistem akan dapat menyebabkan gangguan pada permukaan cairan sehingga menghalangi pembentukan busa yang stabil yang mendorong pemisahan partikel (Raimondo, 1967).

5.      Bleaching

Pemutihan (bleaching) merupakan proses yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan lignin (delignifikasi) di dalam pulp atau serat sehingga diperoleh tingkat kecerahan warna yang tinggi dan stabil (Greschik, 2008). Proses pemutihan serat harus menggunakan bahan kimia yang reaktif untuk melarutkan kandungan lignin yang ada di dalam serat agar diperoleh derajat kecerahan yang tinggi (Tutus, 2004). Ada beberapa faktor pada saat proses bleaching yang dominan mempengaruhi seperti temperature, dosis, pH, dan lainnya.

 

BAHAN KIMIA PROSES DEINKING

            Bahan kimia pada proses deinking sangat penting dalam mekanismenya seperti pengembangan serat, saponifikasi, pembasahan, emulsifikasi, pengendapan, antiredeposition, dan dispersi. Bahan kimia yang digunakan pada proses deinking dibagi menjadi dua bagian (C. Jiang dan J. Ma. 2000). Dua bagian tersebut yaitu:

1.  Flotation Chemicals

            Bahan kimia yang digunakan dalam flotation chemicals sangat tergantung pada jenis kertas bekas yang diproses. Pulper chemicals merupakan bagian penambahan bahan kimia pada prosses flotasi yang bertujuan untuk mendispersikan tinta. Bahan kimia utama yang digunakan flotasi adalah sebagai berikut:

·         NaOH

Berfungsi untuk menyabunkan minyak-minyak yang terdapat didalam tinta, sehingga pigmen-pigmen tinta dapat terbasahi  dan dapat dikeluarkan dari serat.

·         Hidrogen Peroksida

Berfungsi sebagai bahan pemutih (dapat menaikan derajat putih) dan juga dapat membantu terdispersinya bahan coating serta bahan sizing. Agar H2O2 tidak terurai, ditambahkan chelating agent dan  natrium silikat.

·         Deterjen

Deterjen yang biasa digunakan adalah asam lemak (asam oleat) yang berfungsi sebagai “kolektor” yang berperan       sebagai penambah sifat hidrofobik dari tinta, sehingga tinta dapat melekat pada gelembung udara, kemudian terapung dipermukaan.

·         Chelating Agents

Perannya sebagai bahan untuk membentuk senyawa kompleks dengan logam-logam berat yang larut dakam air. Contohnya  yang sering digunakan adalah : DTPA (diethylene triamine pentaacetic acid) dan EDTA (ethylene diamine tetraacetic acid).

 

2. Bleaching Chemicals

            Bahan kimia yang digunakan untuk proses pemutihan tergantung pada jenis kertas bekas yang diproses. Bleaching agent bertujuan untuk memutihkan pulp dengan dilakukan pemasakan. Bahan kimia bleaching yang digunakan adalah sodium percarbonate, hydrogen peroxide, hypochlorite, sodium carbonate, sodium hydrosulfite, ozone, FAS (formamidine sulfinic acid), enzyme xylanase, dan lainnya.

Adapun penjelasan beberapa bleaching agent yang digunakan pada saat bleaching adalah sebagai berikut:

·         Sodium Percarbonate

Sodium percarbonate adalah senyawa tambahan hidrogen peroksida dan natrium karbonat. Berdasarkan rumus molekuler, zat natrium perkarbonat murni mengandung 32,5% hidrogen peroksida dan 67,5% natrium karbonat (berdasarkan berat), sodium percarbonate memiliki bentuk berupa bubuk kristal putih (Hera, 2002). Sodium percarbonate merupakam reaktan alkali tidak seperti hidrogen peroksida dan tidak memerlukan soda kaustik ekstra (NaOH) untuk aktivitas pemutihan. Titik lebur dan titik didih tidak dapat ditentukan karena sodium percarbonate terurai saat dipanaskan. Dekomposisi adalah eksotermik dan melepaskan gas oksigen. Penentuan tekanan uap tidak berlaku karena natrium perkarbonat adalah suatu senyawa anorganik yang dapat terionisasi. Diameter rata-rata ukuran partikel natrium perkarbonat adalah dalam kisaran 300 - 900 μm. Sodium percarbonate mudah larut dalam air, menghasilkan larutan basa sedang. PH adalah sekitar 10,5 pada konsentrasi 1%.

·         Hypochlorite

Hypochlorite (ClO- ) merupakan bahan kimia yang digunakan untuk pemutih produk (Sójka-Ledakowicz et al., 2000). Hipoklorit ini terdiri dari klor dan oksigen dengan rumus kimia ClO- . Senyawa ini merupakan klorin aktif yang paling aktif dan banyak digunakan untuk pemutihan, secara kimiawi hipoklorit bersifat kurang stabil.

·         Hydrogen Peroxide (H2O2)

Hydrogen Peroxide berbentuk cairan tidak berwarna, sedikit lebih kental dari air dan dapat bercampur dengan air dalam berbagai komposisi (Jones, 1999). Hydrogen peroxide bersifat asam yang sangat lemah dan mempunyai kemampuan sifat oksidator yang sangat kuat. Hydrogen peroxide (H2O2) merupakan bahan pemutih yang bisa digunakan untuk proses pemutihan dengan konsep Totally Chlorine Free (TCF). Hydrogen Peroxide terurai secara katalitik oleh banyak bahan umum, menghasilkan evolusi panas dan oksigen, yang dapat mendukung pembakaran bahan yang mudah terbakar. Juga Hydrogen Peroxide dapat menyebabkan bahaya kesehatan juga selama penanganan. Karena bahaya dan sifat oksidatif ini, penyimpanan dan penanganan Hydrogen Peroxide harus dipantau dengan cermat. Pabrik dapat menerima Hydrogen Peroxide pada konsentrasi 70% atau 50%. Larutan Hydrogen Peroxide yang sangat terkonsentrasi dapat disimpan dengan aman, dengan tindakan pencegahan keamanan khusus yang direkayasa dan solusi konsentrasi yang ketat, seperti truk tangki khusus, kereta api, tangki penyimpanan mahal (aluminium dan baja tahan karat 304 dan 306, lokasi khusus yang jauh dari kontaminan potensial), dan khusus sistem perpipaan (TAPPI TIP 0606- 24).

·         Enzyme Xylanase

Penggunaan enzyme dalam pemutihan pulp dikenal sebagai biobleaching. Penggunaan enzyme xylanase untuk biobleaching menghasilkan pulp dengan kecerahan tinggi dan menghemat bahan kimia pemutihan (Bajpai, 1999). Xylanase juga banyak digunakan dalam pemutihan pulp bukan kayu (Bajpai, 1996). Penerapan xylanase sering disebut sebagai "prebleaching" atau "peningkatan pemutih" karena meningkatkan efek pemutihan bahan kimia dengan memutus jaringan xilan, yang membantu menghilangkan lignin yang terperangkap dari bubur kertas daripada membuang lignin secara langsung atau menyerang lignin. Pada umumnya enzim xilanase yang digunakan sebagai bleaching dibuat dari bakteri dan jamur. Pemutihan dengan xylanase memerlukan kontrol parameter yang ketat termasuk pH, suhu, dan waktu retensi (Farrell et al. 1996; Suurnakki et al. 1997). Kinerja enzim sangat tergantung pada jenis bahan baku, proses pembuatan pulp , dan urutan pemutihan. Pemutihan menggunakan xilanase, dibandingkan dengan pemutihan konvensional, meningkatkan efisiensi pemutihan dan mengurangi kebutuhan bahan kimia pemutihan.

 

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI PULP

 

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI PULP

            Semua kegiatan industri mempunai potensi untuk menimbulkan dampak terhadap lingkunganya. Seperti halnya pabrik pulp yang dalam proses produksinya menghasilkan limbah cair, padat maupun gas. Apabila limbah tersebut tidak diolah terlebih dahulu akan mengakibatkan pencemaran sehingga menurunkan kualitas sungai dan merugikan ekosistem yang ada disekitarnya Unit pengolahan limbah di pembuatan pulp ini mempunyai tujuan untuk :

1. Mengurangi kadar polutan dalam air limbah tidak

2. menimbulkan pencemaran.

3. Mengurangi pencemaran udara yang ditimbulkan oleh gas buang.

4. Melindungi ekosistem air dari dampak kekurangan oksigen akibat tertutupnya permukaan air oleh limbah.

5. Menghindari timbulnya penyakit atau gangguan kesehatan.

6. Mencegah timbulnya bau yang tidak enak.

Sistem pengolahan limbah dipabrik pulp ini meliputi perlakuan fisik, kimia dan biologi yang terdiri atas 3 tahap yaitu :

1. Tahap Pertama (Primary Treatment)

            Pada unit ini terjadi pemisahan pencemar dengan cara penyaringan dan pengendapan biasa. Limbah dari plant-plant dialirkan ke effluent melalui penyaringan (screening) kasar yang terdiri dari 2 tingkat. Selanjutnya limbah dimasukkan kedalam pembersih pasir (great removal) dengan diberi gelembung-gelembung udara agar pasir dapat meluap keatas. Limbah yang tidak mengandung pasir tersebut dinetralisasi agar tidak terlalu asam atau basa. Selanjutnya limbah dipompa dengan effluent pumping pit untuk diendapkan dalam pimary setting tank secara gravitasi. Overflownya mengalami secondary treatment, sedangkan peralatannya dikeruk dan dialirkan ke proses dewatering untuk dijadikan limbah padat.

 

 

2. Tahap Kedua (Secondary Treatment)

            Pada tahap yang kedua limbah mengalami perlakuan biologi dimana tangki-tangki dialiri dengan lumpur yang mengandung mikroorganisme (bakteri) yang akan menguraikan zat-zat organik dalam limbah. Pada unit ini terdapat tangki aerasi dimana di atas tangki terdapat baling-baling yang berputar dan berfungsi untuk mengalirkan oksigen ke dalam tangki yang bermanfaat bagi mikroorganisme aerob. Serta diberi nutrient sebagai nutrisi mikroorganisme untuk berkembang. Setelah proses secondary treatment, limbah diendapkan dalam secondary clarifier untuk mengendapkan suspended solid yang ada. Air overflow yang keluar dari secondary clarifier langsung dibuang ke sungai karena sudah merupakan air bersih, sedangkan endapannya dialirkan ke tangki aerasi sebanyak 40% dan sisanya dijadikan satu dengan endapan dari primary settling tank untuk mengalami dewatering.

3. Dewatering

            Tahap dewatering terjadi proses limbah dari bentuk endapan dijadikan bentuk padatan. Proses ini menggunakan alat bed filter press yang terdiri dari dua buah wire dimana endapan dilewatkan diantaranya. Alat dari endapan tersebut diserap secara vakum dan filtratnya dialirkan kembali ke primary settling tank. Limbah yang keluar dari bed filter press sudah dalam bentuk padatan dan dibuang ke penimbunan akhir. Limbah ini dapat digunakan untuk kesuburan tanah karena banyak mengandung N,P,K,C yang sangat baik untuk kesuburan tanah.

Bahan kimia yang ditambahkan untuk proses pengolahan limbah yaitu :

1. Alum

            Berfungsi untuk memisahkan partkel yang terlarut sehingga terbentuk flok kecil / halus yang mudah berikatan.

2. Polimer

            Berfungsi untuk mengikat flok halus dan membentuk flok yang lebih besar sehingga mudah untuk diendapkan. Hal ini dikarenakan berat jenisnya yang lebih besar dari berat jenis air.

 

 

3. NaOH dan H2SO4

            Berfungsi sebagai penstabil pH. Larutan ini hanya ditambahkan apabila air limbah terlalu asam pada pH kurang dari 6 dan basa pada pH lebih dari 8.

4. Urea dan TSP

            Berfungsi sebagai nutrient bakteri.

Usaha-Usaha Menangani dan Memanfaatkan Limbah Dalam industri pulp umumnya menghasilkan limbah berupa :

1. Cairan black liquor yang masih banyak mengandung cairan pemasak dan sedikit padatan yang terikut. Untuk memanfaatkan kembali cairan pemasak yang terkandung didalamya maka didirikan unit recovery untuk mengolah kembali cairan black liquor yang dapat dimanfaatkan kembali berupa CH3COOH yang akan dipergunakan kembali untuk cairan pemasak di digester.

2. Setelah proses pencucian pulp di tahap bleaching juga menghasilkan limbah cair yang selanjutnya akan ditreatment di unit TPL dan dibuang ke aliran sungai terdekat.

3. Sumber – sumber limbah padat dari pabrik pulp berasal dari pemisahan pith dari serat-serat. Waste ini bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar pada boiler setelah proses lanjut, yaitu dengan pengeringan pith dan pengepresan kadar air.

Dampak yang Ditimbulkan dari Limbah

Dari sekian banyak permasalahn yang timbul, yang paling penting dan yang perlu diperhatikan adalah :

- Penyumbatan

            Penyumbatan dipipa, shower, nozzle wire dan felt biasanya terjadi akibat meningkatnya sistem daur ulang dari air bekas. Biasanya masalah ini dapat dihindari dengan menghilangkan kandungan air yang akan didaur ulang. Selanjutnya seluruh peralatan yang ada dipakai, direncanakan sesuai penggunaannya. Penggunaan felt sintetis memungkinkan untuk dapat dilakukan pembersihan secara efektif sehingga masalah mengenai penyumbatan dapat dikurangi.

 

- Kerak/Deposit

            Kerak/deposit terbentuk dari hasilkristalisasi/koagulan bahan bahan non resin. Kerak merupakan hasil gabungan dari anion karbonat dan sulfat dengan kation Ca, Mg, Fe, dan Ba. Sebagian kerak umumnya hasil dari deposit CaCO3 dan MgCO3. Salah satu cara untuk mengontrol kerak adalah lewat kontrol batas kesadahan air dalam sistem dengan cara membatasi kadar kation. Air yang mengandung senyawa besi dengan mangan dapat menolong pertumbuhan bakteri besi dan mangan sebagai kontribusi terbentuknya deposit.

- Lendir dan bau

            Kombinasi antara mikrobicide dan dispersing agent Sebagian besar lebih efektif dan ekonomis untuk mengontrol lendir dan bau.

- Korosi

            Korosi adalah kerusakan logam karena peristiwa elektrokimia atau aktivitas bakteri. Laju korosi dipengaruhi oleh interaksi kompleks dari banyaknya padatan terlarut seperti klorida dan sulfat, kesadahan, alkalinitas, keasaman, suhu, dan batas konsentrasi. Banyak faktor yang mempengaruhi korosi membuat permasalahan menjadi sulit dan kompleks untuk mengontrolnya. Sebagian besar pabrik mengatasi masalah korosi ini dengan menggunakan bahan stainless steel atau fiber glass. Dalam keadaan aerobik, korosi elektrolisa akan menjadi mudah terjadi, begitupula sebaliknya. Kontrol terhadap bakteri dapat dilakukan dengan pemakaian microciocide secara efektif.

 

Daftar Pustaka.

Ali M, Suciningtias. 2005. Minimisasi Limbah pada Industri Pulp dan Kertas. Proceding Seminar

Nasional Kimia Lingkungan VII

TA_Program Studi DIII_Teknik Kimia_Institut Teknologi Sepuluh Nopember_Pabrik Pulp dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Proses Acetocell

Electrostatic Presipitator (ESP) pada Recovery Boiler (RB)

 

Electrostatic Presipitator (ESP) pada Recovery Boiler (RB)

     ESP merupakan penangkap partikel debu yang terdapat dalam gas buang hasil pembakaran black liquor pada RB. Gas buang yang dihasilkan RB tidak dapat langsung dibuang keudara bebas karena menghasilkan emisi pencemar udara. Hasil pembakaran black liquor menghasilkan gas buang berupa H2, CO, CH4, gas TRS (Total Reduced Sulphur), CO2, H2O dan sejumlah karbonat. Selain itu menghasilkan emisi berupa partikulat Natrium Karbonat (Na2CO3) dan Natrium Sulfat (Na2SO4).

Sistem Electrostatic Presipitator

 


 

   Komponen-komponen dari ESP, antara lain:

1.    Komponen Utama Mekanikal, terdiri dari

a.     Casing dan Manhole, berada pada bagian luar dan terbuat dari pelat baja Fe 37B dengan tebal hingga 5 mm.

b.    Hammer, memukul pelat pengumpul agar partikel debu yang menempel jatuh ke hopper.

c.     Hopper, sebagai tempat jatuhnya partikel debu dari pelat pengumpul karena rapping (getaran) dari hammer yang selanjutnya dikirim ke tangki penampungan menggunakan sistem konveyor.

2.    Komponen Elektrikal

a.     Sistem Kontrol Panel, mengatur parameter kerja ESP seperti sensor temperature, flow rate gas buang dan lain-lain.

b.    Rectifire, menghasilkan arus searah (DC) yang dialirkan pada anoda (kutub positif) dan katoda/pelat pengumpul (kutub negatif).

c.     ID Fan, penghisap gas buang pada saluran gas buang ESP.

Komponen-Komponen dari ESP

 


  

     Cara kerja dari Electrostatic Precipitator (ESP) adalah:

1.     Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan plat pengumpul.

2.     Flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehinggan partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-).

3.     Partikel debu yang bermuatan negatif (-) akan menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate).

4.     Debu yang dikumpulkan di pelat pengumpul dipindahkan kembali secara periodik dari pelat pengumpul melalui suatu getaran (rapping).

5.     Debu jatuh ke bak penampung (ash hopper) dan dipindahkan ke fly ash silo dengan cara di vakum atau dihembuskan.

Sistem Ionisasi pada ESP (https://www.youtube.com/watch?v=0QWMHxZdPQk)

 


 

Sumber:

Sepfitrah dan Yose Rizal. 2015. Analisis Electrostatic Presipitator (ESP) Untuk Penurunan Emisi Gas Buang Pada Recovery Boiler. Riau: Universitas Pasir Pengaraian.